Diteror kuntilanak saat travelling memang bukan kisah biasa. Kisah nyata ini dituliskan seorang cewek asal Medan, yang sering mengalami hal berbau mistis seperti ini, untuk pembaca BanyakCakap.com.

Jalan-jalan bisa membuat otak lebih rilex dan fresh bekerja kembali. Karena tidak terkungkung dengan rutinitas yang begitu-begitu saja. Yang tanpa disadari kadang bisa membuat orang stres, mudah baperan, mudah tersinggung dan marah tanpa sebab.

Sebelum backpacker jadi tren seperti sekarang, aku sudah lebih dulu menjelajah. Dengan tas ransel di punggung, tas belanjaan di lengan dan beberapa tas selempang di bahu.

Pokoknya udah kaya gantungan deh. Lahhhh napa gak bawa koper mbak???? Jiahhhh ribettt tauuuu!!! Karena perjalanan kami, menyusuri dua negara sekaligus. Thailand dan Malaysia. Melalui jalur darat. Agar lebih hemat dan bener-benar berasa efek jalan-jalannya. Dan juga, karena aku ingin mencicipi masakan di setiap kota yang dilewati.

Aku berangkat bersama 2 sahabatku. Bang Halel dan bang Donny. Aku sendirian cewek. Nahh kok gak takut pergi ama cowok” ????

Yahhhh enggak lah, karena aku berangkat dengan orang-orang yang baik. Udah kaya saudara banget.

Saling melindungi dan menjaga di perjalanan. Itulah makna backpacker. Bukan cuma senang-senang dan jalan doank. Saat di negara orang, mungkin kita kehabisan uang atau kesulitaan. Saat itulah kita tahu, mana orang yang egois, mana yang nyaman dijadikan temen backpackeran. Atau mana teman yang nggak asik sama sekali untuk diajak jalan. Karena ngebosenin, ngebossy dan ngerusak suasana perjalanan.

Diteror Kuntilanak di Patong Beach, Thailand

Saat itu, di Patong Beach sedang ada karnaval. Hingar bingar dunia malam yang selama ini hanya bisa kami lihat di televisi. Perang tarif di kanan dan kiri. Bukan tarif pulsa atau bus antar kota, tapi tarif wanita-wanita mala. Yang cantiknya kaya artis. Langsing-langsing. Meliuk-liukkan badan di sebuah tiang.

Dentuman musik saling bersahutan. Aroma minuman keras tercium di sepanjang jalanan Pathong. Aku pun asyik dengan handycam. Mengabadikan tiap moment yang ada. Di sepanjang jalan menuju ke hotel, berbagai tempat pijat terlihat penuh sesak oleh pelanggan. Yang ingin merasakan tangan-tangan ‘terampil’ wanita Patong.

Lelah menikmati malam. Kami bergegas pulang ke hotel. Mata baru saja terlelap. Bang DOny sudah membangunkan untuk shalat Subuh.

Selesai shalat, kami duduk di lobby hotel. Sekedar ngobrol sambil cari komputer yang biasanya tersedia di tiap hotel. Ketika matahari sudah mulai menunjukkan sinar, kami langsung keluar. Kebetulan hotel kami sangat dekat dengan lokasi karnaval.

Baca yang Horor lainnya nih : Adu Mulut, Emak-emak Juru Parkir Nekat Buka Baju dan Celana

Kali ini kami layaknya 3 orang yang terjebak di kota mati. Tidak ada seorang pun. Dari toko hingga tempat pijat, tutup. Dua biksu Budha membawa dupa, berdoa sambil menyusuri jalanan yang penuh sampah. Sisa pesta tadi malam.

Di ujung jalan, seorang nenek duduk menyendiri.  Menjual rangkaian bunga untuk berdoa. Beberapa puluh meter berjalan, tiba-tiba kakiku berat. Seperti ada yang menahan.

Langkahku tertatih. Mengejar kedua temanku. Tak lama kemudian, Bang Donny dan Bang Halel berhenti. Hampir bersamaan.

“Kakiku, berat banget. Kayak ada yang narik,” kata Bang Dony

“Sama Don. Aku malah terasa ditarik sampai paha,” balas Bang Halel denga wajah sedikit takut.

“Bang, kok kayak di film-film horor Thailand ya. Sering loh ada yang ngikut,” jawabku yang masih merasakan tarikan gaib tersebut.

Bang Doonny dan bang Halel hanya terdiam. Dan akhirnya memilih untuk beristirahat. Sambil sesekali memijat-mijat kaki.

Hanya kami bertiga di jalan itu. Sunyi senyap. Dua biksu dan seorang nenek penjual bunga, juga raib entah kemana. Sekelebat sosok putih berambut panjang, lewat di depan. Kami hanya bisa berdoa. Agar selalu dilindungi-Nya. Jangan sampai kisah di film horor Thailand, terjadi pada kami.

Diteror Kuntilanak di Hotel Tua di Penang

Topics #backpacker #diteror kuntilanak #Featured #hotel tua di penang #karnaval #kuntilanak #patong beach #penang #travelling ke thailand