Ini sebuah kisah nyata seorang cewek asal Medan di perantauan yang terus diganggu hantu kamar kosong. Sebuah kamar di rumah tua yang tidak boleh ditempati.

Namun, di kamar itu, terdapat peralatan lengkap. Seolah ada yang menempati. Mulai dari dispenser hingga peralatan make up.

Silahkan menikmati ketegangan kisah horor ini. Hanya di BanyakCakap.com.

Tahun 2008 – 2009 adalah awal dimana aku banyak mengalami kehilangan. Pertama papaku, kemudian sahabat-sahabatku. Aku ngerasa nggak punya siapa-siapa. Aku merasa seorang diri.

Tapi, di situ juga awal aku memulai petualangan hidupku yg sebenarnya. Menjadi perantau. Seumur hidup, aku nggak pernah pisah dari keluargaku.

Aku lihat wajah mamaku, nenekku, adik-adikku yang bahkan belum lulus sekolah dan kuliah saat itu. Aku tidak berfikir untuk pacaran. Tidak juga berfikir untuk menikah dan menyelamatkan hidupku sendiri.

Tekadku hanya satu. Sebagai pengganti kepala keluarga di rumah. Aku punya tanggungjawab yang besar.

Dengan kepasrahan dan tekad itulah aku berani merantau ke Aceh. Kutepis ketakutanku. Saat itu marak isu Gerakan Aceh Merdeka hingga hantu-hantu korban tsunami.

Singkat cerita, Banda Aceh. Naik pesawat dengan sahabatku Khairanie Zulkarnain.

Awalnya, karena belum dapat tempat tinggal, aku numpang di kost Lenny Susanti. Dua hari di Banda Aceh, aku menerima instruksi surat tugas. Aku dipindahkan ke Kuala Simpang.

Jam 8.00 malam, aku harus naik bus dan berangkat ke kota itu. Yang bahkan namanya masih asing di telingaku.

Anak Medan yang nggak tau kemana-mana. Perjalanan malam kulakukan dengan bus KURNIA. 12 jam perjalanan dan paginya aku harus langsung ngantor.

Aku disambut dan diterima dengan baik di cabang Mandiri Kuala Simpang, Aceh Tamiang. Mungkinn karena wajahku yang chubby, imut dan mulut yang terlampau ramah.

Bahkan hari pertama aku sudah dapat tempat kost dan punya bodyguard. Namanya bang Aziz Parkir. Tukang parkir paling hits dan gaul di Bank Mandiri.

“Kak Sisca ramosss, kalau ada apa-apa, ini nomor hp aku. Nanti aku bantu kakak bawa koper ke tempat kost,” kata tukang parkir berusia 40-an tahun itu.

Ohhh iya, tau nggak kenapa aku di panggil ramoss? Jadikan beras itu ada tingkat-tingkat levelnya. Ada arias, ramos, kukubalam, beras catu. Nahhhh katanya aku tuhh ramosssss banget (wakakakak).

Aku memasuki tempat kostku. Sebuah rumah tua yang cukup besar. Rimbunan pohon dan bunganya hampir menutupi pagar rumah.

“Ibu kostnya besok baru datang. Kuncinya udah di titip ke Aziz. Kakak silahkan pilih kamar. Yang penting jangan kamar nomor 2 dan kamar yg paling belakang yahh kak,”terang bang Aziz.

“Apa sudah ada anak kostnya di kamar itu bang?,”tanyaku penuh selidik.

“Rumah ini nggak pernah di kost kan. Kakak lah satu-satunya.”

Deggg!!! Jawaban Aziz bikin jantung berhenti sesaat.

Artinya, aku…..aku ….aku saat ini, malam ini harus tidur seorang diri. Di rumah tua sebesar ini. Nggak ada siapapun???

Aku mulai bergidik,tatapan mataku nanar menyusuri setiap bagian rumah. Aku masuk ke kamar pertama. Tampak luas. Dengan lemari yang besar.

Aku geser koperku masuk ke kamar itu. Lalu aku ke ruang tengah. Masuk ke ruang makan yang lebih besar dari ruang tamu dan teras rumahku Medan.

Kulewati kamar no.2. Kulihat kunci tergantung di pintu. Mungkin ibu kost lupa mencabutnya. Aku nggak berani buka. Karena dilarang.

Perabotan di rumah itu pun lengkap. Pesan ibu kost, aku bebas pakai semua barangnya.

Aku hanya cukup membayar Rp350rb/ bln untuk tinggal di rumah mewah ini.

“Bang Aziz, sebenarnya ini rumah siapa sih?,”tanyaku ke Bang Aziz yang sedari tadi ikut bantu angkat koper.

“Ohh.. ini rumah pensiunan pertamina kak. Suami si ibu sudah meninggal. Anak-anaknya sudah menikah dan ikut suami. Nah, rumah ini jarang ditempati. Paling cuma dibersihkan sekali seminggu. Ibu itu ikut anaknya. Karena jaga cucu,”cerita Bang Aziz panjang lebar.

Malam pun tiba. Bang Aziz sudah pulang. Kukunci semua pintu dan jendela. Lalu merapikan baju-baju. Sambil menghitung sisa uangku. Yang cuma seadaanya. Untuk mengadu nasib di kota orang.

Lelah menyelimuti. Mata sudah terasa berat. Kuperiksa sekali lagi pintu dan jendela. Memastikan sudah terkunci.

Sesekali aku merinding jika lewat dapur. Karena berasa sangat lembab dan dingin. Apalagi di bagian belakang masih berdinding tepas.

Aku nggak takut hantu. Lebih takut kalau ada maling masuk. Terus aku diperkosa.

Haissssss… maharku bisa turun kalau hilang keperawanan.

Setelah kumatikan lampu kamar, aku mulai memejamkan mata. Belum sempat terlelap, terdengar suara.

“Kletek…kletek.” Darahku berdesir. Jantungku berdebar. Kututupi telinga dengan bantal. Kupeluk gulingku erat.

Tapi… suaranya semakin dekat. Seperti suara pintu sedang dikunci.Seakan kunci itu lagi di main-mainkan.

Suasana kemudian kembali hening. Namun tidak berlangsung lama.

“Kletek…kletek…kletek…kletek….”

Yaaa Allah suaranya datang lagi.

“Tuhan, jika memang nyawaku hanya sampai hari ini,aku mohon jaga keluargaku,”entah mengapa. Doa itu spontan keluar dari mulutku.

Sekujur tubuhku menggigil. Aku nggak berani menghidupkan lampu. Takut kalau-kalau maling atau apalah itu tahu aku berada di kamar ini.

Aku berusaha mencari dan meraba HP ku. Suara itu semakin jelas dan kencang. Kali ini bahkan seperti kunci kamarku yang di gerak-gerakkan.

Suara itu cukup dekat di telingaku.
“Aahhhh ini dia…..!!,”dengan tangan gemetar kucoba menghubungi Bang Aziz.

Panik membuat irama jantungku makin tidak stabil. Ada butiran hangat yang tnpa kusadari menetes dari mata. Aku menyekanya, dan berusaha bernafas walau tersengal-sengal. Seperti kena asma.

“Hallo bang Aziz. Sisca ini bang. Ada orang yang congkel pintu dan jendela bang, Aku takutttttttttt, hiks …hiks…hiks,”bisikku sedikit terisak.

“Oke kak, aku lihat kesana,”katanya.

Aku menutup telpon. Suara aneh itu serasa menjauh. Seperti di ruang tengah. Aku masih menggigil dan meringkuk ditempat tidur.

“Kikikikikikkk… Kikikikikkk… Kikikikikkk.”

“Ahhhhhhhhggggg…..,” jeritku seketika.

Dering hp mengejutkanku. Aku lupa mengganti dering hpku menjadi suara yang lebih wajar. Ini suara ketawa anak kecil yang saat itu lagi tren.

“Aku udah kelilingi rumah ini kak. Nggak ada siapa-siapa. Bawa golok aku nih. Udah kakak tenang aja. Kami masih ramai kok kak di kedai kopi depan ini,”ujar bang Aziz meredakan ketakutanku.

Suara aneh sudah hilang. Akhirnya aku tertidur.

[Diganggu Hantu Kamar Kosong] Ternyata, Itu adalah Bekas Kamarnya…

Esoknya sepulang dari kantor, ibu kost menyambutku di teras rumah. Ia memelukku dengan ramah. Ada sebuah kelegaan dan kegembiraan. Yang bahkan membuatku lupa kejadian tadi malam.

Sikapnya yang keibuan, membuatku serasa berada di rumah sendiri. Ibu kost tidur denganku di kamar depan. Kami belanja, masak dan membereskan rumah bersama.

Aku menyapu ruang makan. Ibu kost masuk ke kamar nomor 3. Membawa sapu lidi tanpa gagang. Rasa penasaran membuat mataku tidak bisa dikontrol.

Pintu sedikit terbuka. Aku berusaha mengintip ke dalam. Sambil pura-pura menyapu.

Ruangnya gelap. Jendela dibiarkan tertutup. Lampu juga tidak dinyalakan. Seberkas cahaya masuk dari lubang angin. Cukup membantuku melihat isi kamar itu.

Ada sebuah kursi kayu menghadap tempat tidur tua. Yang kasurnya digulung. Ada sebuah dispenser air mineral yg masih ada isi tinggal setengah galon. Lengkap dengan cangkir kaleng di dekatnya.

Ada juga lemari kayu tempo dulu. Dengan kaca yang buram.

Aku buru-buru pindah posisi menyapu, ketika ibu kost keluar dari kamar. Kuberanikan bertanya, “Bu, ini dulunya kamar siapa?”

Ibu kost menatapku tajam, aku tiba-tiba kikuk dan salah tingkah. Apakah aku salah bertanya.

“Ohhhh ini dulu kamar nenek si puteh (nama panggilan anak perempuan ibu kost). Sakit stroke bertahun-tahun dan akhirnya meninggal di kamar ini juga,” terang Ibu kost.

“Kenapa dispensernya diletakkan di dalam bu? Kalau di luar bisa Sisca bersihkan,”tanyaku lagi.

“Nggak apa, mana tau nanti nenek puteh haus,”jawaban Ibu kost membuat bulu kuduku berdiri.

Nggak terasa, satu bulan aku di perantauan, bersama ibu kost yang baik. Hingga ibu menerima telpon dari anak perempuannya. Agar segera pulang.

Dengan berat hati aku melepas ibu kost yang sudah kuanggap seperti orangtuaku itu pulang. Dan aku kembali tinggal sendirian.

[Diganggu Hantu Kamar Kosong] Pintu Kamar Tiba-tiba Terbuka….

Malam itu, semua lampu kunyalakan. Suasana kedai kopi pun masih ramai orang bermain catur. Deru sepeda motor masih terdengar lalu lalang.

Aku nonton TV. Di ruang tengah. Memakai sarung kotak-kotak biru untuk selimut.

Nonton nggak asyik tanpa cemilan. Lalu aku beranjak ke ruang makan. Menuju kulkas dan melewati bekas kamar almarhumah nenek si puteh.

Aku melangkah dengan santai. Tatapan mataku sudah tertuju ke pintu kulkas. Selangkah lagi tanganku sudah menggapai pintu kulkas lalu membukanya. Namun telingaku menangkap dengan jelas suara air dari dispenser. Suara gelembung-gelembung galon air mineral jika airnya di keluarkan.

Nafasku tercekat. Aku nggak salah dengar. Aku juga tidak sedang berhalusinasi. Aku masih dalam kondisi sehat dan sadar. Aku memalingkan wajahku ke arah kamar yang tadi siang pintunya sudah ditutup.

Wajah dan suhu tubuhku meningkat seketika. Butiran keringat keluar dari dahi. Adrenalinku mengalir menggebu dan jantungku berdegup kencang, ketika kulihat pintu kamar itu …

Pintu itu, ohhhh pintu itu…,terbukaaaa!!!!!

Tubuhku bergetar. Tanganku masih memegang kulkas. Sedang wajahku menoleh ke arah kamar nenek. Masih teringat jelas pintu itu tertutup rapat ketika aku melewatinya tadi.

Aku berusaha menarik tanganku. Mencoba membalikkan badanku yang sudah terasa kaku dan berat. Karena ketakutan.

Kucoba memejamkan mata, sambil berlari sekencang-kencangnya. Aku tidak mau tiba-tiba melihat apapun yang aneh-aneh yang ada di kamar itu. Aku meraih handel  pintu tengah, dan seketika itu juga menutupnya dalam satu hentakan.

“JEEEEDUUUARRRR!!!”

Dinding rumah seakan ikut bergetar. Karena begitu kuatnya aku menarik pintu. Entah seberapa cepat aku berlari dan bisa sampai ke pintu tengah melewati kamar nenek puteh yang pintunya terbuka lebar.

Jantungku berdegup. Tangan kananku masih memegang handel pintu. Tangan kiriku, memegang perutku yang terasa sakit dan perih seketika. Aku ingin muntah. Sepertinya aku stres dan asam lambungku naik.

Aku kunci pintu tengah, lalu aku berjalan ke depan televisi yang masih menyala. Bukan menonton tv, tetapi hanya menatapnya kosong. Dengan tubuhku yang masih berdiri kaku. Memegangi sarung yang sudah pindah posisi seperti orang ngeronda.

Baca juga yang Horor ini : Diteror Kuntilanak Saat Travelling

Aku masih mentelaah lagi kejadian yang aku alami tadi. Otakku tidak bisa berhenti berfikir.

Seketika itu juga aku di kagetkan oleh sebuah suara yang membuyarkan lamunanku.

“JJJJEEEEEDDUUUUUUUAAAAARRRRR”

Suara pintu dibanting. Bahkan lebih kuat dari yang tadi kulakukan.

“AAAAAAAARRRRRRRRRGGGGGGGHHH”

Jeritanku pecah menggelegar. Aku menutup telingaku dengan kedua tangan. Berjongkok dan meringkuk karena ketakutan di ruang TV.

Itu… itu suara dari kamar nenek puteh. Aku pastikan memang dari kamar itu.

Aku bergegas berlari keluar rumah. Mencoba mencari pertolongan, melewati taman-taman bunga dan membuka pagar.

Suasana sangat gelap. Tidak ada sinar bulan, sedangkan lampu teras kami mati. Aku berdiri terpaku di depan gerbang rumah tua itu. Kulihat remang-remang beberapa orang yang merokok sambil bermain catur di kedai kopi.

Tidak ada satu orang pun yang sadar aku sudah berdiri menatap mereka. Ingin kuhampiri dan menceritakan kejadian yang kualami.

Tapi seketika itu pula aku tertunduk lesu. Kusadari bahwa akan sangat konyol jika aku menceritakan hal ini ke mereka. Hanya akan jadi bahan tertawaan. Lalu mereka akan tahu bahwa aku hanya sendirian di rumah. Bisa membahayakan nyawa dan keselamatanku.

BERSAMBUNG Di SINI

Kisah nyata Sisca Jayanti. Penggemar travelling dan serba serbi kuliner. Yang kerap bersinggungan dengan Dunia Lain.
Topics #asal medan #cewek perantauan #Featured #kamar kosong #kisah horor #kisah nyata #malam jumat #rumah tua