Pagi tiba. Aku sangat suka suasana ini. Bertemu rekan-rekan kantorku. Melupakan sejenak arwah gentayangan di rumah tua yang kerap menggangguku.

Kuceritakan semua kejadian yang kualami ke kepala cabang. Beliau menyarankan untuk segera pindah.

Hari itu, kucoba menelpon ibu kost.

“Assalamualaikum ibu?Ibu apa kabarnya? Sisca rindu bu. Ibu kapan pulang?” kataku sedikit berbasa-basi.

Lalu ibu kost berkata, ia tidak bisa segera pulang menemaniku. Karena harus menjaga cucu. Anaknya ikut suami dinas di luar kota.

Ibu kost memperbolehkan aku mencari anak kost. Untuk menemaniku dirumah ini. Secepat itu juga aku menulis “MENERIMA ANAK KOST WANITA” pada spanduk besar. Mirip spanduk para caleg. Kupajang di pagar depan rumah.

Alhamdulillah. Selang beberapa hari, aku sudah dapat teman baru. Namanya Wulan Sari.

Hadirnya Wulan di kost membuat suasana jadi berbeda. Aku lebih happy. Tak lama kemudian, masuk lagi anak kost bernama Maya.

Seharusnya Maya dan Wulan sekamar. Menempati kamar di dekat pintu tengah. Di sebelah kamar yang tidak boleh di buka itu.

Namun karena aku sudah akrab dengan Wulan, aku meminta dia untuk tidur di kamarku. Dan Maya tidur sendirian di kamar itu.

Adik-adik kostku ini semua anak perantau dari kota Langsa. Bekerja Aceh Tamiang. Setiap Sabtu sore sampai minggu, mereka pulang kampung. Dan kembali lagi Senin atau minggu malam.

Aku tidak menceritakan apapun ke mereka mengenai rumah kost ini. Aku tidak mau mereka ketakutan dan akhirnya pergi.

Setiap Sabtu dan Minggu, aku berusaha untuk tidak tinggal sendirian di rumah. Kadang aku ikut Wulan pulang kampung ke Langsa. Atau malah aku pulang ke Medan. Nebeng mobil Pak Kepala Cabang.

Begitu juga ketika pulang kerja, aku rela nongkrongi adik-adik kostku di kantor mereka untuk pulang bareng. Atau nonton tv sampai malam bareng security kantorku jika mereka lembur.

Semua kulakukan agar tidak sendiri pulang ke rumah kost.

Pada suatu malam di kamar kost, alarm biologisku memanggil. Aku minum air putih terlalu banyak. Kulihat Wulan tertidur nyenyak di sampingku.

“Lannnn… Wulannn…, Dekkkk… Temeni kakak pipis yokkk,”sambil kugoyang-goyang badannya.

Wulan pun terbangun. Sambil ngucek-ngucek matanya. Dengan logat Acehnya yang kental, dia berkata,” Aihhh haiiii Siscaaaa… Tadi disuruh pipis gak mau”.

“Udah.. Ayoklah ahhhh. Daripada aku ngompol di sini. Terpaksa jemur tilam kita besok, yokkkk ahh,” kataku sambil beranjak dari tempat tidur.

Kubuka pintu perlahan. Kuhidupkan lampu ruang tengah. Kulihat Wulan berjalan lebih dahulu. Membuka pintu tengah, menuju kulkas dan langsung mengambil gelas.

Bergegas aku masuk ke kamar mandi. Menutup pintu dan pipis.

Tok…..tok….tok….

Pintu kamar mandi di ketok 3x.

“Iyahhhhh bentar…… Udah mau selesai nih,”teriakku.

Tok….tok….tok…. Suara ketukan terdengar lagi.

Aku mulai jengkel. Sambil berbasuh dan mencuci tangan, aku ngomel, “Yeeee si ulan nih…. Kalau mau pipis di kamar mandi sebelah napa lan. Ini aku pinjemi gayung nih. Atau ambil baskom atau buat gayung.”

Tapi ketika kubuka pintu, Wulan sudah tidak ada.

“Kemana itu bocah yah? Bukannya barusan aja ngetok pintu,”bisikku dalam hati.

Memang nggak ada kudengar sedikit pun langkah mendekat atau menjauh dari kamar mandi. Harusnya terdengar suara sendal.

Aku melangkah ke ruang TV. Wulan sedang asik mengunyah cemilan sambil bawa minum terduduk disitu.

Dengan mata terkantuk-kantuk,”Udah tuhhh dek. Kalau mau pipis sana, kakak tungguin”.

Lalu Wulan berdiri dan jalan menuju kamar,”Siapa yang pengen pipis??? Ngantuk tau…”

Aku mengikutinya dari belakang. Mematikan lampu dan mengunci kamar. Aku masih bengong. Sedang Wulan sudah terlelap.

Bulu kudukku berdiri seketika. Pori-pori di lenganku terlihat jelas. Kubaca Ayat Kursi, lalu mencoba tidur kembali sambil menutupi seluruh tubuh dengan selimut.

Beginilah denah tempat kost kami. Tiga kamar di bagian kanan, berhantu. Dan sebenarnya, di kamar nomor dua, di bawah tempat tidurnya, ada sebuah nisan.

Minggu pagi. Aku bangun agak siang. Balas dendam. Karena Senin sampai Jumat, jam 7 pagi aku harus sudah briefing di kantor.

Namun Minggu itu terasa beda. Biasanya Wulan sudah membuat keributan. Membangunkanku untuk berjalan-jalan. Menjelajahi tiap sudut Aceh Tamiang.

Tapi kali ini rumah kok sepi sekali. Aku masih bermalas-malasan di tempat tidur. Lalu kuraih hape. Kubaca satu persatu pesan BBM dan sms yg masuk.

Sms pertama dari nomor yang sangat kukenal.

Isinya : Adek abang mencintaimu, percayalah dek, adek satu-satunya cinta sejati abang.

“Hahhhh apa ini. Sms dari laki-laki gak penting yg mau kuenyahkan jauh,”ujarku sambil segera menghapusnya.

Kemudian aku buka BBM, ada pesan dari ulan. “Kak…..ulan ke Langsa sebentar yahh kak, tiba-tiba ada urusan, sore ulan pulang kok kak”.
KKYYYYAAAHHHH…..BBM dari Wulan membuatku bangkit terduduk di tempat tidur.

“Buuuuuuseettt bener nih bocah, aku ditinggal sendirian. Ahhh, tapi kan ini siang hari. Gak akan ada apa-apa, aku yakinnnnn gak akan ada apa-apa,”aku memberanikan diri.

Perutku mulai keroncongan. Aku ingat ada roti dan selai stroberry di kulkas. Ada margarin juga. Mau kubuat roti bakar.

Akus segera melangkah ke dapur. Mengambil roti dan selai. Letakkan di meja makan dari Jepara. Lengkap dengan ukiran indahnya.

Suasana dapur masih gelap dan lembab. Jendela belum kubuka. Aku mau cepat-cepat membereskan perutku yang sudah sangat lapar ini.

Aku berdiri dekat sebuah kursi. Yang berjejer mengitari meja.

Aku merasakan ada yang aneh di sampingku. Kulirik dengan sudut mata kiri. Kejadian itu sangat jelas kulihat.

Ada 3 sosok menyeramkan sedang duduk di kursi. Dua wanita bersama seorang anak kecil. Memandang ke arahku. Wajah mereka rusak parah. Pakaiannya seperti baru terendam lumpur.

Suasana sangat mencekam. Sendok dan roti yang sedari tadi kupegang, terlepas. Kedua tanganku bergetar hebat. Begitu juga dengan tubuhku.

Kursi kosong di depanku melayang ke udara. Menghampiriku. Aku bergeser mundur. Nafasku tak beraturan.

Mataku melotot memandang fenomena di depanku. Kursi itu melayang makin tinggi. Seakan gravitasi bumi sudah hilang. Tubuhku juga seakan melayang. Namun kusadari kakiku masih menginjak bumi.

Aku berteriak sekencang-kencangnya.

“AAAAAAAARRRRRRGGGHHHHHHHHHHHHH”.

Seketika itu juga kursi jatuh ke lantai dengan suara yang sangat kuat. Seperti dibanting.

“GUUUUUUUBBBBBBBRRRAAAKKKKKK”. Namun tersusun kembali seperti sedia kala, seperti tidak terjadi apa-apa. Sosok seram itu pun hilang.

Tubuhku mulai lunglai. Aku bergerak mundur mencari dinding ntuk bersandar. Lutut dan tubuhku bergetar hingga sulit berdiri tegak.

Entah mengapa tiba-tiba emosiku memuncak. Dengan penuh amarah, aku berteriak sekuat tenaga.

“HEEEEEEHHHHHHHH……KAUUUUU!!!JANGANNNNN KAUUU GANGGU AKU YAAAA, AKU TIDAK MENGGANGGU DI RUMAH INI,TUNJUKKAN WUJUDMU…..!!KESINI KAUU, AKU BERANI MENGHADAPI KAUUUU”.

Aku berusaha berdiri tegak sambil mengepalkan kedua tanganku. Untuk merefleksikan ketegangan dan amarahku yang ssedang meluap-luap.

Namun suasana tetap hening. Tidak ada pergerakan apapun. Aku terdiam mematung beberapa saat. Sendok dan roti berantakan di lantai,

Aku melangkah ke luar rumah. Mencari udara segar. Sambil mengatur nafasku yang tak beraturan.
Antara takut dan marah.

Aku duduk bersimpuh di teras rumah. Kusandarkan kepalaku pada tiang besar. Mataku memandang kosong keluar pagar.

Terlihat suara kendaraan dan orang-orang yang berlalu lalang. Pikiranku masih mengingat pada kejadian yang barusan kualami.

Aku merasa gila. Mengapa selalu aku yang diiganggu?

Lamunanku dikejutkan suara sepeda motor Wulan yang masuk.

“Ehhhh kak…, ngapain kei duduk kaya orang stress disini?”katanya keheranan sambil berjalan ke arahku.

Aku tetap diam. Hanya melotot memandang wajah Wulan.

“Kak…..kak… kenapa kak. Baju kakak basah, kak kenapa keringatan kaya gini, sakit kak???,”

Wulan menggoyang-goyangkan tubuhku. Dia lalu berlari ke dalam dan membawakanku segelas air.

Setelah kuminum, ada sebuah kelegaan yang membanjiri kerongkongan. Dan membuatku menarik nafas panjang.

“Wajahmu pucat kali kak. Itu roti di lantai beserak hadeeehhh heii sisca, kenapa kei?” tanya Wulan. Tangannya menghapus keringat dan air mata dari wajahku.

Kuceritakan seluruh kejadian hari itu. Wulan mendengarkan. Sesekali dia menggosok-gosok lengannya. Menjinakkan bulu kuduknya yang berdiri.

Aku (kerudung merah) bersama Wulan. Teman sekamar. Saksi penampakan arwah gentayanga di rumah tua.

Hari-hari berlalu. Maya dan Wulan sudah tahu tentang rumah ini. Aku tidak bisa menyembunyikannya lagi.

Bahkan Maya juga kerap diteror. Suara pintu diketok,suara tempat tidur di kamar kosong yang digeser-geser, hingga penampakan bayangan menyeramkan.

Di suatu malam, Maya mengajak beberapa teman kantornya tidur dikost. Jam 22:00 WIB, kami masih nonton tv bersama.

Suasana panas membuat enggan masuk ke kamar. Sekitar jam 23:30 Wib, Maya bersama ketiga temannya beranjak tidur.

Begitu juga dengan aku dan Wulan. Belum sempat terlelap, tiba-tiba hapeku berbunyi.

Tertera nama Maya. Lalu kuangkat telponnya.

“Kenapa may??”.

Ada suara bergetar dari balik telpon

“Kakak….kakak…., kak Sisca …. kami tidur di kamar kakak yahh…, cepat buka pintu yahh kak, kami lari kesana”.

Secepat itu juga aku melompat dari tempat tidur, menghidupkan lampu dan membuka pintu.

Mereka masuk menyerbu kamarku dengan nafas terengah-engah.

“Ehhh… kenapa kelen woyy” cecar Wulan.

“Suara meja atau kursi seperti digeser-geser dari kamar Nek Puteh,hiiiiiiiihhhh,seram kali” kata salah satu dari mereka

Aku dan Wulan saling pandang sesaat. Aku lalu mempersilahkan mereka tidur di kamar kami. Kuatur posisi tidurnya. Sebagian dari mereka memilih tidur di lantai.

Karena cuaca sangat panas, ditambah kamar yang penuh sesak, membuat kami sulit tidur.

Pukul 00:40 Wib. Belum ada satupun dari kami yang tertidur. Maya dan teman-temannya mulai gelisah. Akhirnya mereka memutuskan kembali tidur di kamar Maya.

Kulihat jam menunjukkan pukul 01:15 Wib. Aku harus segera tidur. Pekerjaan berat sudah menunggu esok pagi di kantor. Wulan pun sudah memejamkan mata dan memeluk gulingnya

Kucoba memejamkan mata. Tiba-tiba terdengar jeritan dari kamar Maya.

“AAAAAAAAAAAARRRRRRRRR…..”

Aku dan Wulan spontan bangun. Dan terduduk di tempat tidur. Wulan menghidupkan lampu. Terdengar pintu kamarku di gedor-gedor dari luar

“KAAAAKKK SISCAAAAA……BUKA PINTUNYA KAK…..!!!!CEPATTT KAKKKK….”.

Bergegas aku membuka pintu kamarku. Mereka menyerbu masuk dengan wajah pucat dan badan gemetar.

“Ayooo cerita kenapa lagi??”tanyaku yang mulai panik.

“Pas kami matikan lampu, kami lihat ada perempuan pakai baju putih duduk di pinggiran tempat tidur. Kami diam aja karna takut, tapi tiba-tiba tanganku di pegangnya kak”teman Maya cerita dengan nafas yang terengah-engah dan menahankan tangisnya.

Entah kenapa saat itu keberanian kumuncul. Sebagai kakak tertua di kost, aku merasa punya kewajiban melindungi mereka.

“Ayokkk kita lihat lagi kamar Maya. Kita ramai, hantu itu sendirian. Kita hadapi. Baca ayat kursi kelen semua ya, baca Al-fatiha juga, jangn sampai ada yang pikirannya kosong.

Kubuka pintu kamarku. Mereka berbondong di belakang sambil menarik baju dasterku. Malah membuatku sulit berjalan.

Kutendang pintu kamar Maya yang masih terbuka setengah. Aku hidupkan lampu kamar. Kosong. Tidak ada ada-apa.

Namun tak ada satu pun dibantara kami yang berani masuk. Kami masih berdiri di depan pintu.

“BRRRRRRAAAAKKKKK!!!”

Tiba-tiba terdengar suara benda di banting dari kamar nek Puteh. Kami saling berpandangan. Tanpa dikomandoi kami teriak sama-sama.

“AAAAARRRRRRGGGHHHHHH”

Kami berlari ke ruang tamu. Bergegas membuka pintu depan. Berhamburan keluar rumah. Kami tidak peduli saat itu sudah tengah malam.

Kami berdiri di jalanan beraspal dengan segala kepanikan. Beberapa orang dari kedai kopi menghampiri kami.

Lalu kerumunan orang bertambah banyak saat pengguna jalan ikut berhenti. Kami menceritakan kejadian secara detail.

Beberpa warga segera masuk ke rumah. Salah satunya punya kemampuan berhadapan dengan dunia lain. Ia meminta garam. Dan menaburkannya dari depan pintu tengah sampai kamar mandi.

Ia mengatakan banyak arwah gentayangan di rumah itu. Karena dulu pernah banjir bandang. Rumah itu sempat tenggelam. Banyak mayat yang tersangkut dan akhirnya ‘menetap’ di sana.

Beberapa hari kemudian, ibu kost dan anaknya datang. Cerita hantu itu ternyata sudah sampai ke telinga ibu kost. Ia dan anaknya mengintrogasi kami.

Wajah ibu kost berubah. Dari keibuan menjadi terlihat bengis dan tidak bersahabat. Saat kuceritakan semua kisah arwah gentayangan di rumah tua.

Tak lama kemudian, kami semua minta izin pindah dari rumah tua itu.

(Penampakan  Arwah Gentayangan di Rumah Tua ini adalah Kenangan di kost-kostan Kota Lintang Atas tahun 2010)

Baca Kisah Horor yang menegangkan lainnya, di sini.

Topics #arwah gentayangan #Featured #hantu kamar kosong #kisah horor #kost angker #tumah tua