Fenomena likuifaksi di Sulteng ternyata tidak terlepas dari sejarah Palu sebagai tanah yang terangkat. Asal usul nama kota Palu adalah kata Topalu’e yang artinya Tanah yang terangkat karena daerah ini awalnya lautan.

Karena terjadi gempa dan pergeseran lempeng (palu koro) sehingga daerah yang tadinya lautan tersebut terangkat dan membentuk daratan lembah yang sekarang menjadi Kota Palu.

“Likuifaksi itu lebih kepada larutnya suatu benda padat ke benda cair. Terkait sama gempa bumi ini, di daratan itu kan di bawahnya ada air tanah, begitu ada getaran, barang-barang padat di atas itu akan melarut, teraduk akibatnya getaran. Jadi melarut dengan air tanah di bawahnya,” kata Agustan, ahli geologi di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Likuifaksi ini sebenarnya seringkali terjadi saat gempa kuat terjadi di berbagai tempat, tetapi keadaan permukaan bumilah yang menentukan terjadinya longsor, menurut Agustan, ahli geologi di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Dan hal tersebut sangat terkait dengan sejarah Palu sebagai tanah yang terangkat.

“Contoh waktu gempa Tasikmalaya tahun 2009, itu ada likuifaksi muncul. Tetapi mungkin karena di daerah itu topografinya datar kemungkinan lumpur saja, tidak menyebabkan longsor. Nah kalau kejadian di Palu kemarin, kejadian ada longsor karena mungkin topografinya lebih curam,” katanya.

Baca Juga : Alat Pendeteksi Tsunami yang Dicuri

“Pada umumnya itu terjadi pada tanah yang berpasir. Dia harus jenuh air, mudah terendam air. Ketika dia mengalami guncangan maka air itu akan memiliki tekanan yang berlebih karena dia mendorong ke sana kemari dan mendorong partikel pasir atau tanah yang tidak lengket,” kata Taufiq Wira Buana, peneliti Badan Geologi, kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) kepada Nuraki Aziz untuk BBC News Indonesia.

Tanah semacam itu biasanya yang mudah bersentuhan dengan air.

“Air biasa, air yang ada di dalam tanah itu, mungkin masyarakat umum mengonsumsinya sebagai air tanah. Memang syaratnya, air itu biasanya dangkal, dekat dengan permukaan tanah, kisaran lebih kurang 10 meter,” sambung Taufiq.

Enam tahun lalu, ESDM sudah melakukan penelitian terkait gejala alam ini di beberapa tempat, termasuk di Sulawesi Tengah.

“Di Palu itu memang potensi likuifaksi memang ada. Tahun 2012 kita sudah mengidentifikasi kota Palu sendiri, di bagian tengah rata-rata endapan berumur masih muda, banyak pasir, lumpur yang masih belum terikat, masih gembur,” kata Taufiq.

Topics #Featured #likuifaksi #sejarah palu #tanah yang terangkat