Guru Nelty seketika jadi public enemy. Ia dituduh melakukan doktrin anti Jokowi. Beritanya sontak digoreng. Hingga berjilid.

Seolah-olah, guru SMAN 87 tersebut sosok paling nista di negeri ini. Lebih kotor dari anggota dewan yang minta jatah uang korban gempa Lombok.

Atau lebih jelek dari kelakuan pengusaha yang hobby suap menyuap pejabat. Atau lebih hancur dari pejabat tukang ngeles, karena nggak bisa tepati janji.

Padahal dari laporan terbaru, Guru Nelty sama sekali tidak terbukti melakukan pembusukan Jokowi. Dan pelapor, yang sedari awal anonym, tiba-tiba menghilang. Namun bisa terlacak.

Guru Nelty yang sempat diberhentikan, yang sempat linglung karena stres, harus dikembalikan nama baiknya.

Apakah ini akibat penyematan gelar pahlawan tanpa tanda jasa?

Sehingga jasa pendidikan yang sudah dirasakan ribuan siswa-siswanya, harus lenyap ditelan gelombang politik. Akibat adanya perbedaan pilihan?

Cobalah sesekali kita bertukar posisi. Anda seminggu saja berada di kelas. Dan kami sebagai pengadil dan pengamat.

Maka anda akan menemukan kondisi, di mana kita dilarang mengeluh. Akibat ketidakbecusan manajemen tingkat unit kerja, dan tuntutan kurikulum.

Kondisi di mana kita harus legowo dengan tumpukan beban administrasi, berkas kepangkatan, dan dokumen pembelajaran. Sambil tetap harus prima ketika tampil di depan kelas.

Beban dan tanggung jawab untuk tidak hanya membekali siswa pengetahuan, namun juga keterampilan yang baik. Dan sikap yang bagus.

Keadaan di mana kita harus terus berinteraksi dengan siswa, menjaga kualitas pendidikan mereka, sambil terus mengawasi lingkungan pergaulannya. Menjauhkannya dari ancaman seks bebas dan narkoba. Termasuk dari cengkeraman pengedarnya.

Dengan segala tuntutan itu, apakah masuk akal jika kami masih punya waktu untuk berpolitik?

Karena Guru, dan bagaimanapun mereka diperlakukan. Akan tetap terus menjadi tombak bangsa. Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusianya.

Dan Guru Nelty, masih manusia biasa. Yang sangat mungkin salah. Tapi saya yakin, tidak akan ada sel mewah jika ia dipenjarakan.

Yang ada hanya perasaan sakit, di hati semua guru. Dan kesedihan di hati para siswanya. Yang kehilangan guru yang paling mereka sayangi.

Topics #Featured #Guru nelty #jakarta #sman 87