Langkah bocah berjualan bakso bakar itu semakin goyah. Sepeda yang ia pegang, hampir terjatuh. Meski waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Tapi ia tetap ngotot menjual dagangannya, yang hari itu belum habis terjual.

Bakso bakar seharga Rp1000 per tusuk, masih banyak tersisa. Ada sekitar 32 tusuk lagi. Seorang pria paruh baya, datang mendekat.

Karena merasa iba, pria tersebut memborong habis bakso bakar yang tersisa.

Nama bocah itu Rizki. Usianya masih 10 tahun. Keadaan memaksanya bertarung dengan kerasnya dunia. Ayah mendekam di penjara. Rizki tak mau menjelaskan alasan orangtuanya dibui.

Di saat anak seusianya asyik bermain Mobile Legend di smartphone, bocah kelas 5 SD ini sudah harus mencari uang setelah pulang sekolah. Rizki yang tinggal di Perumahan Berngam, Binjai berjibaku berjualan bakso goreng. Kadang ia menjual salak atau rambutan, bila datang musimnya.

Anak kedua dari 3 bersaudara ini tidak merasa malu dengan keadaannya. Abangnya juga ikut membantu meringankan beban keluarga, dengan bekerja serabutan di Lapangan Merdeka Binjai. Sang ibu sibuk merawat adik mereka yang masih kecil. Seraya membuat bakso bakar untuk dijual.

Raut wajah letih Rizki terkadang membuat haru dan iba. Meski ia sering menutupinya dengan senyuman.

Ia berjuang tanpa mengharap belas kasihan orang lain. Apalagi dengan menyodorkan proposal proyek, seperti yang dilakukan kebanyakan orang.

Jika kalian melihat bocah berjualan bakso bakar ini sedang menjajakan jualannya, belilah. Sekalian berikan ia nasehat. Agar tidak terjerumus dalam lembah narkoba ataupun kejahatan lainnya. Beri ia semangat untuk menyongsong masa depannya.

Mungkin kelak, ia bisa menjadikan pengalaman kecilnya ini, sebagai bekal menghadapi kerasnya zaman. (xyz)

Topics #bakso bakar #Featured #lapangan merdeka binjai #perumahan berngam