Pemimpin visioner di negara ini semakin tersisihkan. Media lebih tertarik mengangkat sepak terjang para sontoloyo dan genderuwo beserta seluruh pengikutnya. Yang memlesetkan pencitraan menjadi visioner.

Junaedi Mulyono, Kepala Desa Ponggok, Klaten salah satu contoh pemimpin visioner yang belum terjangkit virus sontoloyo ataupun genderuwo. Juga bukan kaleng-kaleng. Ia mengubah desa miskin, yang warganya banyak terjerat rentenir, menjadi desa kaya dengan penghasilan Rp4,2 Miliar per tahun.

Awalnya, Junaedi mengundang mahasiswa UGM untuk mencari dan memetakan masalah yang ada di desanya.

“Warga saya terlilit kemiskinan, pengangguran, rentenir. Temuan mahasiswa merinci jumlah penduduk miskin, luas sawah, perikanan, potensi air, peternakan, jalan rusak, talut, sumber daya manusia, dan berbagai data lain yang sangat berguna untuk membuat RPJM,” jelas Junaedi.

Masalah lain yang ditemukan adalah pembangunan tak tepat sasaran, sumber daya manusia yang kurang, pola pikir terhadap pembangunan, serta tidak efektifnya aparat pemerintah yang dibebani fungsi ganda, sebagai pelayan masalah publik sekaligus menggenjot perekonomian masyarakat.

Berangkat dari temuan masalah itu, kepala desa kelahiran 43 tahun lalu ini mulai menyusun empat jurus maut guna menyelesaikan masalah. Tata ruang dan perencanaan wilayah ada di jurus pertama, disusul membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) sebegai sektor penggerak ekonomo dan keuangan masyarakat, kemudian meningkatkan sumber daya manusia, dan melibatkan teknologi informasi sebagai jurus penutup.

pemimpin visioner
Kepala Desa Ponggok

Begini Contoh Program Pemimpin Visioner

Sejumlah program kemudian lahir dari empat strategi itu Gebrakan pertama adalah program satu rumah satu kolam. Program ini ada di awal ia menjabat dan ditujukan pada rumah di sekitar irigasi dan sungai sebagai strategi mengatur hunian di tepi sungai sekaligus memanfaatkan aliran sungai.

Ada pula program potong satu pohon tanam empat pohon yang ditujukan untuk konservasi lingkungan. Aturan 30% zona hijau juga diterapkan di setiap pembangunan hunian baru. Tahun 2009 BUMDES didirikan untuk mengembangkan perekonomian warga. Hasilnya kini terdapat sekitar 160 usaha kecil dan menengah milik warga setempat yang dipasarkan oleh Bumdes.

Wisata yang semakin berkembang dampaknya merembet pada mata pencaharian warga yang berkembang dari bertani dan budidaya ikan meluber pada jasa kuliner dan jasa lain mengikuti perkembangan wisata. Hasilnya, Kades yang telah menjabat selama 12 tahun itu mengklaim pendapatan warga Ponggok kini mencapai rata-rata Rp 1,5 juta per bulan.

“Ibu-ibu yang dulu tidak memiliki pendapatan dan pekerjaan, sekarang bisa berjualan kuliner atau mengelola ikan segar dalam bentuk lain dan menjadi pemasukan tambahan. Seiring dengan perkembangan perekonomian itu, program lain juga bisa dikejar. Strategi sumber daya manusia digenjot dengan subsidi sebesar Rp 300 ribu per bulan bagi penduduk yang sedang belajar di perguruan tinggi, dalam program satu rumah satu mahasiswa. “Sekarang ada sekitar 56 orang,” jelas nya.

Meskipun programnya terus berjalan dan berkembang, bukan berarti tak ada kendala yang merintangi. Ia sering berhadapan dengan pola pikir lama.

Yaitu bekerja tanpa rencana dan berjalan apa adanya. Program IT pertamanya, membagikan telepon seluler android pada perangkat desa sempat ditentang. Namun ia membuktikan dengan terlibatnya media sosial dalam pemasaran Umbul Ponggok menjadi salah satu jurus jitu menggenjot pariwisata.“

Sekarang seluruh perangkat RT RW juga dibekali android. Satu foto yang diunggah di Instagram bisa berdampak besar sebagai informasi jika kemudian disukai ataupun disebarkan oleh follower yang lain,” paparnya.

Pembangunan tersebut menurutnya juga membutuhkan anggaran. Sehingga ia menyambut baik program dana desa yang diterima desanya sejak tahun 2015.

Ponggok menerima anggaran sebesar Rp 300 juta yang berkembang di tahun berikutnya sebesar Rp 500 juta dan bertambah lagi sebesar Rp 800 juta di tahun ke tiga.

Hasilnya bisa dilihat sekarang. Sebanyak 40 ribu wisatawan berkunjung ke Desa Ponggok Klaten Jawa Tengah setiap bulannya. Terdapat empat umbul alami yang dijadikan jujugan wisatawan.

Ada 9 ton padi dihasilkan setiap lima bulan. Sekitar 7 ton ikan air tawar dipanen setiap minggunya.

Pendapatan desa melonjak hingga Rp 4,2 miliar per tahun.

“Itu hanya pendapatan desa ya, berbeda sama BUMDES. Karena kami memisahkan antara desa dan BUMDES. Jadi targetnya dan pengelolaanya beda,” kata Pak Kades yang bukan kaleng-kaleng ini.

Topics #bukan kaleng-kaleng #Featured #kepala desa ponggok #umbul ponggok klaten