Kisah pertempuran Brigjend Bedjo saat mempertahankan kemerdekaan RI dari Belanda, sarat dengan taktik mumpuni. Dan ditopang Pasukan Bedjo yang memiliki persenjataan lengkap.

Hingga Belanda kewalahan dan pernah menawarkan hadiah bagi siapa saja yang bisa menangkap Brigjend Bejo.

Dari beberapa kisah pertempuran Brigjend Bedjo, kisah ini yang paling banyak diceritakan.

Yaitu saat pasukan Bedjo menyelamatkan salah satu tokoh penting yang di kedepan hari menjadi seorang menteri, dan kisah pertempuran yang merenggut korban Jenderal Spoor. Jenderal kebanggan Belanda kala itu.

Pertempuran Brigjend Bedjo Menyelamatkan Tokoh Penting

Tahun 1947. Suasana di Kawasan Helvetia dan Titi Papan di kota Medan cukup menegangkan. Pasukan Belanda kembali datang untuk menguasai asetnya di kawasan Sumatra Timur. Pasca hengkangnya Jepang dari Bumi Indonesia.

Padahal dua tahun sebelumnya, Indonesia sudah memproklamirkan kemerdekaannya.

Dalam masa menjelang penentuan garis demarkasi dengan Belanda di Medan Area tahun 1947, pasukan-pasukan bersenjata dari Aceh yang terdiri dari Tentara Rakyat Indonesia (TRI) yang tergabung dalam Resimen Istimewa Medan Area (RIMA) dikerahkan ke Medan.

Waktu itu dalam pasukan RIMA itu ada Bustanil Arifin, perwira militer yang saat itu berpangkat Sersan Mayor. Dia adalah sosok yang kemudian diangkat menjadi Menteri Koperasi RI pada era 1980-an.

Waktu itu kompi Bustanil bertugas menggempur musuh dari Pasar 1, yang terletak di antara Kelambir V Helvetia dan Klumpang Titi Papan.

Komandan kompi RIMA pada waktu itu kebetulan sakit, maka Bustanil pun ditugaskan menggantikannya. Ketika itulah terjadi pertempuran sengit.

Pasukan RIMA terkepung dan terdesak. Hanya ada dua pilihan. Menyerah atau hancur di tangan lawan. Sudah 17 prajurit yang tewas.

Bustanil pun tidak kehilangan akal. Ia lalu mengutus seorang kurir untuk meminta bantuan kepada Bedjo.

Kebetulan pasukan Bedjo, yakni Batalyon/Napindo Medan Utara, bersebelahan dengan kompinya.

Pasukan Bedjo merespon cepat panggilan itu. Mereka kemudian langsung maju menggempur tentara Inggris dan Belanda lewat pasukan NICA-nya. Lepaslah bahaya maut yang sudah menunggu tadinya.

“Saya berhutang nyawa kepada Pak Bedjo,” kata Bustanil, yang disampaikannya saat pertemuan silaturahim para pejuang kemerdekaan eks TNI Stoottoep Brigade ‘B’ Komandemen Sumatra di Jakarta pada 15 Mei 1983 lalu. Pengalaman diselamatkan oleh Bedjo, ia kenang hingga akhir hayat.

Diyakini Kebal Peluru dan Bisa Menghilang

Januari 1948, Bedjo memimpin perundingan garis demarkasi dengan Belanda di Prapat. Namun pertemuan itu berakhir tanpa kesepakatan apapun. Justru berakhir dengan pertempuran.

Belanda kembali menyerbu pasukan Bedjo, hingga ia terdesak dan sempat disangka tewas dalam pertempuran itu.

Namun sangkaan itu pupus. Bedjo ternyata masih hidup dan ikut berperang bersama pasukannya di beberapa daerah lain di Sumut.

Melihat itu, sebagian masyarakat saat itu meyakini bahwa Bedjo memiliki ilmu menghilang dan tahan peluru.

Atas pandangan ini, Bedjo dalam biografinya sempat berkata bahwa nyawanya masih dilindungi Tuhan.

Makanya ia bisa menghirup udara kemerdekaan selama lebih kurang 40 tahun kemudian.

Pasukan Brigjend Bedjo Menembak Mati Jenderal Spoor

Ketika itu, pasukan Belanda terus mendesak pasukan Indonesia hingga ke wilayah barat Sumatra Utara.

Pasukan Bedjo yang dikenal sebagai pasukan Selikur, berhadapan dengan konvoi pasukan Belanda yang dipimpin Jenderal Spoor.

Pada 23 Mei 1949, konvoi itu kemudian diserang oleh pasukan Selikur di Bukit Simagomago, kota Padang Sidempuan. Banyak pasukan Belanda yang tewas, termasuk Jenderal Spoor.

Sempat beredar berita bahwa kematian Jenderal Spoor adalah akibat serangan jantung. Namun diyakini Bedjo bahwa Spoor mati karena luka-luka serius akibat digempur pasukannya.

Dan isu sakit jantung itu digunakan Belanda untuk meredam euforia kemenangan di kalangan pasukan pribumi. (bbs)

 

Topics #Brigjend Bedjo #Featured #Harimau Sumatera #pasukan bedjo #pertempuran di medan #tewasnya Jenderal Spoor