Tepat di jam 12 siang, aku mengeluarkan sebuah kotak Baperware berisi menu sambal merah dari dalam tas.

Menaruhnya di atas meja, berbarengan dengan empat rekan yang sama-sama bekerja di proyek pembangunan hotel bintang lima di kota kami.

Duduk bersebelahan denganku ada Taslim, di hadapan kami ada Gugum dan Saep.

Kubuka kotak Baperware berwarna ungu muda itu, yang dikatakan Mira dia membelinya secara kredit dua kali pada Bu RT. Kupandangi isi di dalamnya dengan amat seksama.

Menu yang sama lagi.

“Sambal lagi, Har?” celetuk Taslim, menolehkan kepalanya yang hampir plontos itu dengan nada menyiratkan ejekan. “Bukannya kemarin udah sambal udang? Hari ini sambal apa lagi?”

Kekehannya memenuhi meja kami, mengundang decak tawa juga dari Gugum dan Saep yang bersamaan melirik ke dalam kotak Baperwere-ku.

Nasi. Dengan sambal merah campuran tempe, kacang panjang, dan potongan ikan. Menu andalan Mira.

“Kali ini ada ikannya,” timpal Gugum. Dia sendiri akan menyantap ayam gulai siang ini.

“Suruh istrimu belajar masak lah, Har,” sambung Saep pula. Dia tampaknya bangga dengan ayam bumbu di kotak bekalnya. “Jangan cuma bisanya masak sambal aja, apa gak bosan kamu?”

Aku masih terdiam. Kupandangi betapa rapinya tatanan nasi putih dan sambal siang itu, yang entah bagaimana tetap menggugah selera.

“Kemarin udah sambal udang, sebelumnya sambal ayam, sebelumnya lagi ati ampela. Sekarang ikan,” Taslim belum berniat berhenti juga rupanya. “Gak mabuk sambal kamu, Hardi?”

Aku menghela napas. Benar, apa yang dikatakan teman-temanku ini memang benar. Jika lauk pauk yang mereka bawa akan berbeda setiap harinya, maka aku sudah terbiasa jika Mira–istriku, menyajikan sambal merah sebagai menu sehari-hari.

Yang berbeda hanya isinya saja. Meski kadang kala ingin rasanya berkata dia tidak perlu menyiapkan bekal (karena kadang aku ingin makan yang lain) namun tetap saja bibirku tak sanggup mengatakannya.

Kulihat bagaimana Mira berkutat setiap harinya dengan Laksana, putra kami yang tidak pernah kehabisan tenaga di masa-masa aktifnya. Mira selalu bangun lebih dulu, lalu memasak sambalnya ini untuk bekalku.

Meski hanya mampu menyajikan sambal merah dengan berbagai isi, aku tidak kecewa. Sebab tidak pernah kudapati Mira mengeluh ketika gajiku terlambat beberapa hari dari mandor, tidak juga pernah aku mendapati rumah berantakan setiap waktunya pulang.

Mira dengan telaten menemani Laksana bermain, membacakan buku, hingga semua pekerjaan rumah dia makan sendirian. Bulat-bulat.

Mengambil sendok, aku sempat tersenyum saat menyendok sambal tempe yang tersaji siang ini. Bayangan senyum Mira menari di pelupuk mata, persis ketika aku menyuap makan siang itu.

Lezat sekali, seperti biasanya.

Tidak kupedulikan kekehan ketiga rekanku yang tampak melempar senyum dan ejekan, sebab bagiku yang terpenting adalah fakta bahwa Mira menyediakan ini semua.

Ponselku bergetar menandakan ada pesan masuk, dan saat kubuka, senyumku merekah. Itu pesan dari Mira.

My Lovely Wife: Mas, tadi Mira beli sotong di Bu Encit. Besok dimasak apa ya enaknya?

Dan tanpa basa-basi, aku mengetikkan balasan dengan senyum mengembang.

Hardi: Sambal merah aja, Beb. I love you.

TAMAT.

#Nadirebee

-KBM

Topics #istri memasak #masakan rumah #Sambal merah