Saat ini ada tiga kesultanan besar di Sumatera Timur, yaitu: Kesultanan Deli, Serdang dan Langkat. Diantara tiga kesultanan itu, nampaknya Kesultanan Deli sedikit memiliki perbedaan dengan kesultanan lainnya.

Kesultanan Deli memiliki landschap yang terdiri dari Empat Urung, yaitu: Urung Serbanyaman, Urung Sapuluh Dua Kuta, Urung Sukapiring, Urung Senembah Deli. Empat Urung itu di kepalai atau diperintah oleh Kepala Urung yang dikenal dengan sitem Datuk Empat Suku (Meuraxa, 1973).

Jika ditinjau dari hierarki kekuasaannya, Sultan Deli berkuasa secara langsung atau memerintah secara langsung wilayahnya. Jaksa ditunjuk sebagai sekretaris kerajaan dan memegang urusan pengadilan dan polisi. Syahbandar bertugas mengurusi administrasi pelabuhan dan hubungan dengan orang asing. Selain itu, masih ada empat orang besar, yaitu: Datuk Empat Suku (Perret, 2010).

Kesultanan Deli, memiliki beberapa perbedaan yang cukup signifikan dengan Kesultanan Langkat. Perbedaan itu lebih terlihat di bidang pemerintahan, jika di Langkat, “Raja Menanti”, di Deli “Raja Datang”.

Hal itu menunjukkan bahwasanya, di Langkat, raja adalah pemimpin yang posisinya di atas. Dia hanya menanti orang-orang besarnya. Sedangkan di Deli, rajalah yang pergi menemui
pemimpin-pemimpin di bawahnya.

Perbedaan itu juga terletak pada kontrak politik dengan pemerintah kolonial. Jika biasanya pada kesultanan lain, hanya pihak kesultanan yang menandatangani. Di Deli, Datuk Empat Suku juga ikut menandatangani surat perjanjian itu (Perret, 2010).

Sumatra Timur, dulunya merupakan suatu wilayah yang memiliki Kerajaan dan Kesultanan. Kesultanan yang ada pada saat ini merupakan hasil kontinuitas dari Kerajaan Haru yang sudah eksis abad ke-13 (Muhammad Takari, 2010).

Dalam Hikayat Deli, dikatakan bahwa “Maka adapoen soekoe-soekoe jang empat di dalam Negeri Deli, pertama itoelah Kedjoroean Senembah, jang kedua Serbanjaman jaitoe Soenggal itoelah Oeloen Djanji, jang ketiga Doea Belas Koeta, jang ke ampat Soekapiring, maka pada masa Sulthan Mangedar Alam itoelah masa waktoe digelar Datoeq jang bersoekoe tadi: digerlah jang dinamakan ampat soekoe itoelah djadi tiang kerajaan” (Perret, 2010).

Datuk Empat Suku Pemimpin Urung

Datuk Empat Suku, merupakan pemimpin-pemimpin urung. Setiap urung, diperintah oleh datuk. Biasanya setiap urung memiliki nama panggilan tersendiri untuk para datuk.

Kepala Urung Serbanyaman dikenal dengan nama Datuk Sunggal. Kepala Urung Sapuluh Dua Kuta, dikenal dengan Datuk Hamparan Perak, atau Datuk Setia. Kepala Urung Sukapiring, dikenal dengan Datuk Kampung Baru, sedangkan Kepala Urung Senembah Deli, dikenal dengan Datuk Patumbak (Meuraxa, 1973).

Empat Kedatukan ini disahkan menjadi pilar Kesultanan Deli oleh Tengku Panglima Pasutan, generasi ke empat dari Kesultanan Deli. Empat Kedatukan inilah aslinya Kota Medan.

Menurut Meuraxa, jika kita bicara mengenai Medan, maka kita tidak bisa lepas dari Urung Sapuluh Dua Kuta. Hal ini dikarenakan, Medan dulunya termasuk Landschap Urung Sapuluh Dua Kuta (Meuraxa, 1973).

Tidak hanya itu, Guru Patimpus, yang dikenal dengan pendiri kota Medan atau the Founding Father Kota Medan, merupakan salah satu keturunan dari Kedatukan Urung Sapuluh Dua Kuta.

Dalam sebuah buku yang berjudul Morfologi Kota Medan, dikatakan bahwa pada awalnya, Kota Medan merupakan sebuah perkampungan yang dibuka oleh orang yang berasal dari Tanah Karo yang dikenal dengan nama Guru Patimpus (Julaihi Wahid, 2009).

Sejarah Kedatukan Urung Sapuluh Dua Kuta, berkaitan erat dengan orang-orang Karo. Pada dasarnya tidak hanya Kedatukan ini saja yang memiliki keterkaitan dengan orang Karo.

Kerajaan Haru dan Kesultanan Deli juga memiliki hubungan yang erat dengan orang Karo. Nampaknya sifat terbuka untuk menerima etnik lain menjadi Melayu merupakan corak dari Kerajaan ataupun Kesultanan Melayu.

Bahkan, orang Melayu memiliki konsep peleburan etnik, yang disebut dengan:

(1) Melayu asli, yaitu: secara keturunan memang berasal dari keturunan atau puak Melayu.
(2) Melayu semenda, merupakan etnik rumpun melayu lainnya yang secara sosial kawin atau menikah dengan etnik Melayu dan menetap di kawasan Melayu, serta menggunakan kebudayaan
Melayu.

(3) Melayu seresam, golongan rumpun Melayu yang hijrah dan menetap di wilayah budaya Melayu, serta masuk dan mengamalkan budaya Melayu (Muhammad Takari, 2010).

Topics #empat datuk #empat urung #kesultanan deli #urung sapulug dua kuta