Asli, saya terharu Ahad sore kemarin melihat foto-foto anak Masjid Jogokariyan, Yogyakarta, turun ke jalan galang dana buat beli kapal selam. Anak-anak itu sedang dididik untuk mencintai dan membela daulat ngerinya.

Himpunan Anak Masjid (HAMAS) Jogokariyan bercanda? Iseng? Bermain-main? Harga Nanggala 402 Rp 5,8 T. Sementara para bocah itu tentunya hanya bisa mengumpulkan recehan.

Orang yang mengenal komunitas Jama’ah Masjid Jogokariyan pasti paham. Jogokariyan ngga pernah main-main dalam semua urusan. Selalu serius dengan ide dan program-programnya.

Lagi pula, sebetulnya ngga penting berapa jumlah yang didapat dari penggalangan dana.
Tapi makna dari ide dan aktivitas anak masjid ini yang utama. Pada rasa kehilangan. Pada rasa memiliki. Pada pembelaan dan cinta negeri.

Sementara itu boleh juga memaknai galang dana itu sebagai sindiran ketiadaan visi besar penyelenggara negara menjaga daulat di lautan. Anak-anak sampai memikirkan patungan beli kapal selam. Sementara Menhan disuruh ngurus ladang, tanam singkong.

Sindiran bahwa anak-anak sampai bersusah-payah cari sumbangan mengumpulkan uang dalam mimpi beli kapal selam. Sementara uang negara, harta benda rakyat dirampok besar-besaran. Jumlah duit yang dirampok di ASABRI, Jiwasraya, BPJS TK, hampir mencapai 100 T. Berapa kapal selam jenis Nanggala 402 yang bisa dibeli? Dan ngga perlu pinjam kapal penyelamat kapal selam dari tetangga. Bisa beli sendiri.

Ide kecil anak masjid itu sebenarnya mencerminkan visi besar negeri bahari. Bahwa Indonesia yang dua pertiga wilayahnya terdiri dari lautan, sepatutnya punya sarana alutsista laut yang memadai. Perlu dijaga angkatan laut yang berwibawa. Perlu banyak kapal perang, termasuk kapal selam.

Ironis bukan? Negeri maritim seluas Indonesia cuma punya 5 kapal selam tanpa kapal penyelamatnya. Singapura yang seluas Depok saja punya 4 kapal selam dan 1 kapal penyelamat kapal selam. Iya betul, negeri tetangga nggak sibuk bongkar celengan dan cari utangan untuk pindah ibu kota.

Antusiasme anak masjid menggalang dana itu sesungguhnya menggetarkan. Mereka mewakili duka cita atas rasa kehilangan yang besar. Mereka mewakili rasa memiliki yang kuat pada tanah air negeri ini. Mereka mewakili rasa cinta dan pembelaan yang tulus pada negeri tercinta, Indonesia raya.

Galang dana beli kapal selam pengganti Nanggala 402 yang hilang pun berkembang. Bukan urusan anak masjid lagi sekarang. Tetapi resmi Masjid Jogokariyan membuka rekening donasi patungan beli kapal.

Gerakan Masjid Jogokariyan mendapat sambutan dan dukungn banyak pihak. Antara lain Ustaz Abdul Somad. UAS ikut mempromosikan donasi beli kapal melalui akun IG-nya.

Semua itu bermula dari masjid, berkembang di masjid, insya Allah terwujud berkat dukungan umat jama’ah masjid di seluruh Indonesia.

Kepada syuhada Nanggala 402, selamat berlayar dalam keabadian. Tabah sampai akhir.
Anda hidup dalam kenangan dan kehendak umat menjaga daulat dan kehormatan tanah air bangsa ini.

Salam
Banda Bening

Topics #donasi kapal selam #Masjid Jogokariyan #nanggala 402