Dalam naskah Riwayat Hamparan Perak, silsilah ataupun turunan dari Kedatukan Urung Sapuluh Dua Kuta berawal dari orang-orang Karo, di antaranya yaitu Sisingamangaraja, yang dilanjutkan oleh Siraja Hita dan Guru Patimpus (Muhammad Takari, 2010).

Adapun alasan lain yang bisa dijadikan tolak ukur bahwasanya Kedatukan Urung Sapuluh Dua Kuta tidak bisa lepas dari Karo, bisa dilihat dari nama Urung dan Kuta.

Kalimat Urung yang ditulis menggunakan awalan huruf U besar, memiliki arti Kepala-kepala Melayu atau Datuk Sedangkan Kuta memiliki arti kampung-kampung yang didirikan oleh orang Karo (Sinar, 2006).

Setiap Kuta dikepalai oleh seorang Kepala Kampung yang pertama kali mendirikan Kuta atau kampung tersebut. Penamaan kampung ini biasanya diambil dari marga yang pertama kali mendirikan atau membuka tanah. Jika terdapat dua atau lebih marga yang berlainan dalam mendirikan sebuah kampung, maka setiap marga mengepalai satu kompleks (Sinar, 2006).

Kedatukan Urung Sapuluh Dua Kuta Hamparan Perak bermula dari orang-orang Karo yang pindah dari dataran tinggi menuju pesisir.

Perpindahan ini terjadi karena beberapa hal, di antaranya menurut J.H Neuman yaitu: Mereka di desak oleh orang India Tamil yang datang dari arah Singkil dan Barus yang masuk ke tanah Karo, dan juga karena marga Sembiring diusir dari Aceh.

Adapun kemungkinan lain terjadinya perpindahan orang Karo, disebabkan tanah dataran rendah (dusun) jauh lebih subur dari dataran tinggi (Sinar, 2011).

Menurut Simajuntak, tujuan kedatangan orang Karo ke dataran rendah ialah untuk memadamkan berbagai masalah dan konflik yang terjadi di kalangan penduduk (Simanjuntak, 1977).

Sedangkan Sinar berpendapat bahwa perpindahan itu terjadi, akibat adat Karo yang mengharuskan putra raja haruslah merantau, mendirikan kampung, di luar kerajaan ayahnya. Hal itu bertujuan agar kekuasaan dan keturunan mereka menjadi besar (Sinar, 2006).

Orang Karo yang datang dan hendak menetap tinggal di dataran rendah, terlebih dahulu diislamkan oleh orang-orang Melayu. Mereka yang sudah memeluk Islam, nantinya akan menjadi perantara rekan-rekan satu suku yang belum beragama. Sama halnya dengan Datuk Urung di Sunggal, Hamparan Perak, Sukapiring dan Senembah, mereka terlebih dahulu diislamkan, oleh orang-orang Melayu (Sinar, 2006).

Bermula dari Sisingamangaraja

Asal mula Kedatukan Urung Sapuluh Dua Kuta yang dimuat dalam naskah Riwayat Hamparan Perak dimulai dari Sisinga Mangaraja yang bertahta di Bakkara. Adapun isi dari naskah itu ialah: Sisinga Mangaraja merupakan raja yang berkuasa di Bakkara. Ia menikah dengan Pawang Najeli yang merupakan putri Jalipa, seorang tokoh besar.

Dari pernikahannya Sisinga Mangaraja memperoleh dua orang anak. Anak pertama bernama Tuan Menjolong, anak kedua diberi nama Si Raja Hita.

Sebagai anak pertama, Tuan Menjolong dinobatkan sebagai penerus tahta, sedangkan Si Raja Hita, memutuskan mengembara dengan neneknya Jalipa, karena ia sudah tidak memiliki harapan
lagi untuk menjadi raja di Bakkara.

Sesampainya di tanah Karo, tepatnya di Gunung Sibayak, Si Raja Hita kehilangan neneknya secara misterius. Si Raja Hita kembali ke Bakkara, menikah dan membuat perkampungan di Pakan.

Pernikahan itu melahirkan tiga orang anak laki-laki, yang diberi nama Patimpus, Pekan dan Balige.

Patimpus mewarisi konsep ayahnya Si Raja Hita untuk mendirikan kampung di daerah lain. Adiknya Pakan menjadi raja di Pakan, dan Balige menjadi raja di Balige.

Patimpus lebih memilih memikul tanggung jawab yang dibebankan ayahnya, untuk mengembara. Setiap tempat yang ditemukannya, Patimpus menikah dan mempunyai anak.

Di setiap tempat pula ia membuat perkampungan dan merajakan anak-anaknya di kampung yang ia buka, seperti: Benara, Kuluhu, Solahan, Paropo, Batu, Liang Tanah, Tongging, Ali Jahe, Batu Karang, Purbanji dan Durian Kerajaan.

Patimpus juga berjasa mendamaikan daerah Kaban dan Teran yang ditimpa huru hara, bahkan ia membesarkan daerah Jalipa di Kaban, dan kemudian menjadi pemimpin tertinggi di dataran Karo.

Naskah Riwayat Hamparan Perak : Guru Patimpus Bertemu Datuk Kota Bangun

Setelah merajakan salah seorang anaknya di Durian Kerajaan, Patimpus kembali ke Ali Jahe. Dia mendengar bahwasanya ada seorang ulama besar dari Tanah Jawa yang memiliki kesaktian. Ulama itu bernama Datuk Kota Bangun.

Karena penasaran, Patimpus meninggalkan Ali Jahe untuk bertemu dengan sang Datuk. Ternyata, tidak mudah untuk menemui sang Datuk, Patimpus menghabiskan waktu satu tahun untuk bertemu dengan Datuk Kota Bangun.

Selama mengembara menuju Kota Bangun, Patimpus banyak mendirikan kampung-kampung untuk kaumnya.

Setelah menetap lebih kurang tiga bulan di Sei Sikambing, Guru Patimpus melanjutkan perjalanannya ke Kota Bangun dan akhirnya bertemu dengan Datuk.

Untuk membuktikan kesaktian yang dimiliki Datuk Kota Bangun, Patimpus menantang Datuk untuk menguji kesaktian yang dimiliki sang Datuk. Datuk menyambut baik tantangan Patimpus dengan keyakinan sebagai taruhannya.

Jika kalah Patimpus harus masuk agama Datuk, yaitu agama Islam. Tapi jika Patimpus menang, sang Datuk yang masuk agama atau kepercayaan Patimpus.

Peristiwa adu kesaktian itu berujung kekalahan bagi Patimpus. Dan sesuai kesepakatan awal, maka Patimpus harus menepati janjinya kepada Datuk Kota Bangun untuk masuk agama Islam.

Patimpus meminta agar datuk memberinya waktu tiga bulan, karena ia harus kembali ke gunung untuk memberitahu kaumnya. Sekaligus mengadakan acara adat perpisahan.

Perjalanan yang harusnya memakan waktu yang cukup lama, dalam sekejap mata bisa dipangkas
oleh Datuk Kota Bangun. Hal ini makin menggetarkan hati Patimpus.

Setelah masuk Islam, Guru Patimpus menjadi sangat familiar di lingkungannya. Dia sering ke Kota Bangun-Sei Sikambing dan kadang-kadang gunung.

Suatu ketika, Patimpus melewati istana Pulau Brayan dan melihat putri Pulau Brayan keturunan Panglima Hali bermarga Tarigan sedang bermain dengan dayang-dayangnya.

Dayang-dayangnya secara spontan menunjuk Guru patimpus sembari bergurau bahwa itulah calon suami Tuan Putri. Tuan putri tidak terima dan malah meludah ke tanah sambil menyatakan bahwa ia tidak sudi bersanding dengan Patimpus.

Mendengar cemooh itu, Patimpus sakit hati. Dia pulang ke Sei Sikambing dan mengguna-gunai sang Putri sehingga menjadi gila. Hingga pada akhirnya Patimpus jugalah yang dapat menyembuhkan sang Putri.

Sebagai imbalannya, sang raja menikahkan putrinya dengan Guru Patimpus. Dari pernikahan itu dia memperoleh dua anak.

Naskah Riwayat Hamparan Perak : Anak Guru Patimpus Belajar ke Aceh

Anak pertama bernama Kolok dan yang kecil dinamai Kecik. Kedua anaknya dikirim oleh Patimpus ke Aceh untuk belajar Alquran. Kedua putra Patimpus sangat cepat menguasai Alquran sehingga nama kedua anaknya sangat mahsyur hingga sampai kepada Sultan Aceh.

Ketika menghadap Sultan Aceh, kedua anak Patimpus menyatakan bahwa mereka berasal dari Deli dan ayahnya adalah penguasa di Sepuluh Dua Kuta. Sebuah pernyataan yang menunjukkan bahwa Patimpus berkuasa secara politik di Sepuluh Dua Kuta.

Sultan Aceh memberikan nama baru kepada anak-anak Patimpus keturunan Panglima Hali ( Raja Pulau Brayan). Anak pertama diberi nama Hafiz Tua, anak kedua diberi nama Hafiz Muda, hal itu dikarenakan keduanya hafal Alquran.

Sultan Aceh kemudian meminta keduanya kembali ke tanah Deli karena Guru Patimpus dikabarkan dalam keadaan uzur.

Patimpus menyambut kedatangan anaknya dengan penuh sukacita. Beliau mengumpulkan seluruh kaumnya dari pesisir hingga ke gunung untuk merayakan dan menyambut keberhasilan anaknya dalam menuntut ilmu di Aceh.

Tidak beberapa lama kemudian Patimpus meninggal dunia. Anaknya Hafiz Tua tidak berminat menjadi penerus tahta seperti ayahnya. Karena dia mengaku lebih tertarik menjadi seorang ulama.

Sehingga tampuk kekuasaan diserahkan kepada Hafiz Muda. Anak pertama Patimpus banyak menghabiskan waktunya dengan berkebun di Sei Sikambing.

Kisahnya juga berakhir dalam silsilah Datuk Hamparan Perak, karena tidak mempunyai anak sebagai keturunan di Kedatukan Urung Sapuluh Dua Kuta.

Dinasti Sapuluh Dua Kuta diteruskan dan dilanjutkan oleh Hafiz Muda yang memerintah di Medan.

Setelah Hafiz Muda meninggal dunia, kekuasaan diambil oleh anaknya yang bernama Muhammad Syah. Muhammad Syah memiliki tiga orang anak yang masing-masing bernama Masanah, Ahmad dan Mahmud.

Muhammad Syah membuat kampung di Kuala Berkalla dan Terjun. Sayangnya, anak pertama dan kedua mempunyai perilaku yang buruk, sehingga Muhammad Syah memilih anaknya yang paling kecil untuk meneruskan kekuasaannya.

Karena khawatir dengan ancaman kedua anaknya yang memiliki sufat buruk itu, Muhammad Syah merajakan anaknya yang paling kecil yang bernama Mahmud di Terjun.

Sejak saat itu pulalah secara otomatis pindahlah ibukota Sepuluh Dua Kuta ke Terjun. Sedangkan Musanah tinggal di Pulau Bening dan Ahmad di Medan.

Datuk Mahmud mempunyai tiga orang anak. Yang pertama bernama Ali, kedua bernama Zainal, dan yang ketiga tidak disebutkan namanya, tetapi ia meninggal di usia yang sangat muda.

Setelah meninggalnya Datuk Mahmud, kekuasaan dilanjutkan oleh Datuk Ali. Saat itu Datuk Ali mengalihkan pusat pemerintahan ke Buluh Cina.

Ali mempunyai dua orang anak. Anak pertamanya bernama Banu Hasyim. Sedangkan anaknya yang kedua perempuan, dan diberi nama Bujang Sembah. Yang nantinya menikah dengan Sultan Amaluddin.

Banu Hasyim mengambil alih tahta dan memindahkan Sapuluh Dua Kuta ke Pangkalan Buluh. Banu Hasyim dianugrahi tiga orang anak. Anaknya bernama Sultan Sri Ahmad, Seri Kemala dan Seri Banun.

Banu Hasyim meninggal di usianya yang cukup muda. Sedangkan putra sulungnya yang bernama Sultan Sri Ahmad masih kecil. Untuk sementara tampuk kekuasaan dijabat oleh Datuk Bandar Sapai, hingga Sultan Sri Ahmad dewasa.

Setelah umurnya beranjak dewasa, Sultan Sri Ahmad diangkat oleh Sultan Amaluddin Mangendar (Sultan Deli) untuk memimpin Sapuluh Dua Kuta dengan gelar Panglima Setia Raja Wazir Sapuluh Dua Kuta.

Sultan Sri Ahmad juga diberi gelar oleh rakyatnya dengan nama Datuk Setia Diraja. Gelar itu diberikan rakyatnya dikarenakan begitu luar biasanya jasa dan pengorbanan sang Datuk terhadap rakyatnya.

Sejak saat itu, resmilah Sapuluh Dua Kuta menjadi salah satu Urung dalam Kesultanan Deli. Istana yang tadinya berada di Pangkalan Buluh sering mengalami banjir, sehingga Datuk Sri Ahmad memindahkan istananya ke Sei Lama.

Namun, hal yang sama terulang kembali, istana itu juga sering mengalami banjir. Pada akhirnya Datuk membuat perkampungan di tempat lain, pada saat membuka perkampungan, Datuk Setia Raja menemukan perak yang terhampar. Hal itulah yang menjadi sebab daerah perkampungan yang dibuka Datuk Sri Ahmad disebut sebagai Hamparan Perak.

Naskah Riwayat Hamparan Perak dulunya dipegang oleh Datuk Syariful Azas Haberham (Datuk Kepala Urung Sapuluh Dua Kuta Hamparan Perak). Namun, setelah ia meninggal dunia pada tahun 2010, Naskah Riwayat Hamparan Perak beralih tangan, dan dipegang oleh Datuk Adil Freddy Hafiz Haberham, SE (Anak dari Datuk Syariful Azaz Haberham atau keturunan ke 14 Kedatukan
Urung Sapuluh Dua Kuta)

Adapun tarombo keturunan Kedatukan Urung Sapuluh Dua Kuta Hamparan Perak, berdasarkan naskah Riwayat Hamparan Perak ialah:

a. Sisinga Mangaraja
b. Tuan Siraja Hita
c. Guru Patimpus
d. Datuk Hafiz Muda
e. Datuk Muhammad Syah Darat
f. Datuk Mahmud
g. Datuk Ali
h. Banu Hasyim
i. Sultan Seri Ahmad
j. Datuk Adil
k. Datuk Gombak
l. Datuk Hafiz Haberham
m. Datuk Syariful Azas Haberham
n. Datuk Adil Freddy Haberham

Sumber: Skripsi Nur Aini | UINSU

Topics #datuk kota bangun #guru patimpus #riwayat hamparan perak #sisingamangaraja #tarombo keturunan guru patimpus