Pertempuran Medan Area merupakan salah satu peristiwa penting bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan.

Sayangnya, peristiwa tersebut seolah dilupakan. Bahkan oleh orang Medan yang lebih mengenal peristiwa 10 November di Surabaya.

Awal Terjadinya Pertempuran Medan Area

Sukarno dan Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia telah menyatakan proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 di Jakarta.

Kabar gembira tersebut baru sampai ke rakyat Medan 10 hari berselang atau pada 27 Agustus 1945.

Namun, kedatangan pasukan Sekutu yang disertai oleh NICA atau balatentara Belanda membuat rakyat dan kaum pejuang di Sumatera Utara merasa terusik.

Ahmad Tahir dalam Bunga Rampai Perjuangan dan Pengorbanan (1995:90) mengisahkan, di Medan, Belanda mulai menunjukkan pergerakan yang mencurigakan.

NICA mengumpulkan para mantan serdadu Belanda di Medan untuk membentuk kembali kekuatan militer mereka.

Para pemuda di Medan pun segera mengambil sikap. Dimotori oleh Ahmad Tahir yang pernah bergabung dengan tentara sukarela (gyugun) pada masa pendudukan Jepang, dibentuklah Barisan Pemuda sebagai tindakan antisipasi.

Barisan Pemuda di Medan punya ciri khas, yakni mengenakan lencana merah-putih. Tanggal 13 Oktober 1945, tentara Belanda menginjak-injak lencana kebanggaan tersebut.

Insiden inilah yang memicu pecahnya perang di Medan. Dalam peristiwa yang disebut Pertempuran Medan Area itu, pihak republik berhasil melumpuhkan hampir 100 orang serdadu Belanda.

Hal ini membuat militer Belanda murka dan menetapkan sejumlah aturan. Ditegaskan oleh Belanda bahwa rakyat Indonesia di Medan tidak boleh membawa senjata.

Mereka yang masih membawa senjata diwajibkan menyerahkannya kepada pihak Belanda atau Sekutu. Tentu saja, rakyat Medan tidak mematuhi aturan tersebut.

Petrik Matanasi dalam “Sejarah Pertempuran Medan Area” menuliskan, tanggal 1 Desember 1945, Sekutu menetapkan beberapa garis batas di beberapa titik kota Medan.

Simbol pembatas ini adalah papan-papan yang di dalamnya terdapat tulisan Fixed Boundaries Medan Area. Penyebutan ‘Medan Area’ sebagai nama pertempuran ini diklaim berawal dari papan tersebut.

Konflik kian membara. Terjadilah peperangan lagi pada 10 Desember 1945. Pasukan RI di bawah komando Abdul Karim meladeni tentara Sekutu atau Belanda di Deli Tua.

Di Kota Medan, Sekutu dan NICA melancarkan serangan besar-besaran. Tercatat dalam Sejarah Nasional Indonesia VI (1984) karya Marwati Djoened Poesponegoro dan kawan-kawan, kaum rakyat pejuang di Medan meladeni serbuan tersebut.

Perang yang terjadi membuat jatuhnya banyak korban dari kedua belah pihak. Buku Republik Indonesia: Sumatera Utara (1953), mencatat, kala itu Kota Medan digempur peperangan, situasi kacau-balau, para prajurit Sekutu melakukan berbagai tindakan keji yang membuat rakyat Medan kian murka.

Sekutu dan NICA akhirnya berhasil menduduki Kota Medan pada April 1946. Pusat perjuangan rakyat Medan pun terpaksa digeser ke Pematang Siantar.

Kendati begitu, masih terjadi perlawanan, termasuk pada 10 Agustus 1946 di Tebingtinggi. Para komandan pasukan RI yang berjuang di Medan kemudian bertemu dan membentuk satuan komando bernama Komando Resimen Laskar Rakyat Medan Area.

Tanggal 19 Agustus 1946, dibentuk Barisan Pemuda Indonesia (BPI) di Kabanjahe. Dikutip dari artikel “Terbentuknya TKR di Tanah Karo” dalam laman Pemerintah Kabupaten Karo, BPI menjadi salah satu unsur pembentuk Badan Keselamatan Rakyat (BKR) yang merupakan cikal-bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Laskar-laskar rakyat di berbagai daerah di Sumatera Utara terus melancarkan perlawanan terhadap Sekutu dan NICA meskipun Kota Medan telah diduduki. Tak hanya di Sumatera Utara, gelora perlawanan juga terjadi di berbagai daerah lain di Sumatera, seperti Padang, Bukittinggi, Aceh, dan lainnya.

Topics #Medan Area #Pertempuran