Mengenal tingkatan kebangsawanan Melayu. Budaya dan peradaban Dunia Melayu bukan hanya didukung oleh masyarakat kebanyakan (rakyat), tetapi juga oleh golongan bangsawan. Oleh karena itu dikaji pula tingkatan kebangsawanan Melayu.

Dalam kebudayaan Melayu dikenal beberapa tingkat kebangsawanan. Menurut Tengku Luckman Sinar (wawancara pada 23 September 2006), bangsawan dalam konsep budaya Melayu adalah golongan yang dipercayakan secara turun-temurun menguasai sautu kekuasaan tertentu.

Namun demikian, seorang bangsawan yang berbuat salah dalam ukuran norma-norma yang berlaku dalam kebudayaan, dapat saja dikritik bahkan diturunkan dari kekuasaannya, seperti yang tercermin dalam konsep raja adil raja disembah, raja lalim raja disanggah.

Hirarki kekuasaan adalah dari Allah, kemudian berturut-turut ke negara, raja, pimpinan, rakyat, keluarga, dan keturunannya.

Berikut tingkatan kebangsawan Melayu :

(a) Tengku (di Riau disebut juga Tengku Syaid) adalah pemimpin atau guru–baik dalam agama, akhlak, maupun adat- istiadat.

Menurut penjelasan Tengku Lah Husni (wawancara 17 Maret 1988), istilah Tengku pada budaya Melayu Sumatera Timur, secara resmi diambil dari Kerajaan Siak pada tahun 1857. Dalam konteks kebangsawanan, seseorang dapat memakai gelar Tengku apabila ayahnya bergelar Tengku dan ibunya juga bergelar Tengku. Atau ayahnya bergelar Tengku dan ibunya bukan Tengku. Jadi gelar Tengku secara genealogis diwariskan berdasarkan hubungan darah secara patrilineal.

(b) Syaid, adalah golongan orang-orang keturunan Arab dan dianggap sebagai zuriat dari Nabi Muhammad. Gelar ini terdapat di Riau dan Semenanjung Malaysia.

(c) Raja, yaitu gelar kebangsawanan yang dibawa dari Inderagiri (Siak), ataupun anak bangsawan dari daerah Labuhan Batu: Bilah, Panai, dan Kota Pinang.

Pengertian raja di daerah Melayu tersebut adalah sebagai gelar yang diturunkan secara genealogis, bukan seperti yang diberikan oleh Belanda.

Oleh pihak penjajah Belanda, gelar raja itu diberikan baik mereka yang mempunyai wilayah pemerintahan hukum yang luas ataupun hanya mengepalai sebuah kampung kecil saja.

Pengertian raja yang diberikan Belanda ini adalah kepala atau ketua.

Menurut keterangan Sultan Kesebelas Kesultanan Deli, Tengku Amaluddin II, seperti yang termaktub dalam suratnya yang ditujukan kepada Gubernur Sumatera Timur tahun 1933, jika seorang wanita Melayu bergelar Tengku nikah dengan seorang bangsawan yang bergelar Raden dari Tanah Jawa atau seorang bangsawan yang bergelar Sutan dari Minangkabau (Kerajaan Pagaruyung), maka anak-anak yang diperoleh dari perkahwinan ini berhak memakai gelar raja.

(d) Wan. Jika seorang wanita Melayu bergelar Tengku kawin dengan seorang yang bukan Tengku, dengan seseorang dari golongan bangsawan lain atau masyarakat awam, maka anak-anaknya berhak memakai gelar wan. Anak lelaki keturunan mereka seterusnya dapat memakai gelar ini, sedangkan yang wanita tergantung dengan siapa dia menikah. Jika martabat suaminya lebih rendah dari wan, maka gelar ini berubah untuk anaknya, mengikuti gelar suaminya–dan hilang jika kawin dengan orang kebanyakan.

(e) Datuk (kadangkala ditulis Datuq).

Terminologi kebangsawanan datuk ini, awalnya berasal dari Kesultanan Aceh, baik langsung ataupun melalui perantaraan Wakil Sultan Aceh di Deli.

Gelar ini diberikan kepada seseorang yang mempunyai kekuasaan daerah pemerintahan otonomi yang dibatasi oleh dua aliran sungai.

Batas-batas ini disebut dengan kedatuan atau kejeruan. Anak-anak lelaki dari datuk dapat menyandang gelar datuk pula.

Sultan atau raja dapat pula memberikan gelar datuk kepada seseorang yang dianggap berjasa untuk kerajaan dan bangsanya.

Di Malaysia gelar datuk diperoleh oleh orang-orang (yang bukan Melayu) yang dianggap berjasa dalam pengembangan budaya Malaysia. Kemudian tingkatan datuk lainnya adalah datuk seri dan datuk wira.

(f) Kaja. Gelar ini dipergunakan oleh anak-anak wanita seorang datuk.

(g) Encik dan Tuan adalah sebuah terminologi untuk memberikan penghormatan kepada seseorang, lelaki atau wanita, yang mempunyai kelebihan-kelebihan tertentu dalam berbagai bidang sosial dan budaya seperti: kesenian, dagang, bahasa, agama, dan lainnya. Panggilan itu bisa diucapkan oleh sultan, raja, bangsawan, atau masyarakat kebanyakan.

Sesuai dengan peralihan zaman, maka penggolongan kebangsawanan ini tidak lagi dominan dan memberi pengaruh yang luas dalam konteks sosial budaya etnik Melayu di Sumatera Utara, walaupun biasanya golongan bangsawan tetap mempergunakan gelarnya. Kini yang menjadi orientasi kehidupan sebagian besar etnik Melayu adalah menyerap ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan didasari oleh adat-istiadat Melayu.

Tingkatan kebangsawan Melayu Sumatera Timur ini, diolah dari penjelasan yang dikemukakan para narasumber: (1) Tengku Lah Husni, (2) Tengku Luckman Sinar, (3) Encik Tairani, (4) Datuk Filiansyah, (5) Datuk Ahmad Fauzi, (6) Encik Dahlia Abu Kasim Sinar, (7) Wan Saifuddin, dan lain-lainnya. Wawancara dilakukan secara acak waktunya selama tahun 1995 sampai 2012.

Sumber : Buku Sejarah Kesultanan Deli dan Peradaban Masyarakatnya. Terbitan USU Press.

tingkatan kebangsawanan Melayu tingkatan kebangsawanan Melayu tingkatan kebangsawanan Melayu

Topics #datuk #melayu deli #raja #tingkatan kebangsawanan Melayu