Kue Nastar adalah salah satu primadona saat hari raya tiba. Hal ini juga yang membuat harga nenas melonjak. Karena selai nenas di tengah kue nastar merupakan kunci kenikmatannya.

Pengetahuan membuat nastar diwarisi orang Indonesia dari masyarakat kolonial Belanda. Mengingat nama nastar berasal dari bahasa Belanda, yakni ananastaart.

Mia Kustiyanti dari Program Studi Belanda Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, dalam makalahnya “Kata Serapan dari Bahasa Belanda pada Bidang Kuliner dalam Bahasa Indonesia: Analisis Fonologis” menjelaskan bahwa nama nastar mengalami perubahan dari kata asalnya, ananastaart. Dalam bahasa Belanda, Ananas berarti buah nanas dan taart berarti kue.

“Fonem di awal kata mengalami pelesapan. Pelesapan itu dapat dikaitkan dengan penyerapan sebuah kata dari bahasa asing secara lisan,” jelas Mia.

Sementara taart berubah menjadi tar. Dalam kata itu terjadi perubahan vokal panjang menjadi vokal pendek. Ini karena bahasa Indonesia tak mengenal vokal panjang. Adapun bunyi t pada akhiran taart juga menghilang. Pasalnya, bahasa Indonesia tak mengenal adanya letupan pada akhir kata.

“Pelepasan pada bunyi t di akhir kata ini juga berkaitan dengan penyederhanaan pelafalan. Bahasa Indonesia cenderung memiliki pelafalan yang sederhana, seperti pada kata test berubah menjadi tes,” jelas Mia.

Nastar kemungkinan populer pada abad ke-19 hingga awal ke-20 ketika buku resep masakan banyak dipublikasikan. Saat itu perempuan Belanda dan Indo mulai melakukan improvisasi kuliner. Mereka menuliskan resep-resep kreasinya, menghimpunnya, dan menerbitkannya.

Fadly Rahman, sejarawan kuliner, dalam “Kuliner sebagai Identitas Keindonesiaan” yang termuat dalam Jurnal Sejarah, Vol. 2(1), 2018, menjelaskan dari maraknya publikasi buku masak itu berkembang konsep kuliner yang disebut Indische keuken atau kuliner Hindia.

“Dari praktik gastronomi Indische keuken terjalin hubungan yang saling mengenal, mengolah, dan menerima kuliner antarbangsa,” jelas Fadly.

Misalnya, kata Fadly, penulis buku-buku masak mengenalkan resep-resep bumiputra seperti sate, soto, rawon, dan sambal kepada pembaca Eropa. Lalu resep masakan bergaya Eropa diperkenalkan kepada para pembaca Jawa dan Melayu, termasuk resep membuat kue nastar.

Menurut Pipit Anggraeni dalam Kuliner Hindia Belanda 1901–1942, majalah-majalah perempuan yang terbit pada 1920 hingga 1930 seperti De Huisvrow, Pedoman Istri, dan Doenia Istri, juga ikut mendorong lebih jauh perkembangan kuliner di Hindia Belanda. Resep-resep Eropa yang menggunakan bahan pangan seperti anggur merah, margarin, mentega, cokelat, vanila, susu, keju, roti, dan aneka tepung diperkenalkan ke khalayak luas.

“Dengan begitu kebiasaan mengkonsumsi makanan Eropa terus berkembang dan menyebar di berbagai kalangan keluarga Eropa dan keluarga bangsawan kaya, khususnya yang tinggal di perkotaan,” jelas Pipit.

Kedatangan perempuan Eropa ke Hindia Belanda yang semakin bertambah juga membuat bahan pangan kian beragam. Didukung sarana transportasi yang semakin baik, sehingga pengiriman bahan baku untuk membuat camilan dan masakan Eropa jadi lebih mudah. Termasuk di antaranya mentega dan keju sebagai bahan utama membuat nastar.

Maraknya iklan bahan masakan Eropa mendorong bumiputra semakin membuka diri terhadap makanan-makanan Barat. Beberapa iklan, misalnya produk mentega, bahkan menggunakan bahasa Jawa dan Melayu dengan model perempuan Jawa berkebaya.

“Hal ini merepresentasikan adanya upaya dari para pengusaha makanan di Hindia Belanda  untuk memberi pengaruh terhadap masyarakat bumiputra agar larut dalam kebiasaan dan budaya makan yang dibawa dari Eropa,” jelas Pipit.

Bagaimanapun asal-usulnya yang bergaya Eropa, kue ananastaart atau nastar telah identik dengan perayaan-perayaan di Indonesia. Khususnya waktu menyambut Idulfitri, nastar dibuat dan dijual di banyak tempat. Stoples-stoples berisi nastar selalu tersaji di rumah-rumah untuk menyambut tamu.

Topics #kue hari raya #kue nastar #sejarah kue nastar